Loading...

Jumat, 05 November 2010

Membuat Media Pertumbuhan Mikroba


MEMBUAT MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA

Teori dasar          :
            Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangbiakan pada suatu substrat yang dinamakan medium. Medium untuk pertumbuhan mikroba ini memenuhi persyaratan nutrien yang dibutuhkan mikroba tersebut. Kebutuhan dasar mikroba antara lain : air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh.
            Media terdiri dari 3 macam bentuknya, yaitu : medium cairan, padatan, dan semisolid. Perbedaan ini disebabkan oleh ada tidaknya bahan pemadatan. Bahan pemadatan dapat berupa amilum, gelatin, selulosa, dan agar-agar. Agar-agar adalah media yang paling umum digunakan. Medium cairan tidak menggunakan bahan pemadat sedangkan medium padatan dan semisolid menggunakan bahan pemadat.
            Berdasarkan fungsinya media dapat dibedakan atas medium umum, selektif, dan differensial. Berdasarkan komposisi kimianya dikenal medium alami, medium semisintetis, dan medium sintetis.

            Pengertian Media
Media adalah pembenihan substrat atau dasar makanan untuk menumbuhkan dan membiakkan suatu mikroorganisme. Media yang baik bagi pemeliharaan mikroorganisme ialah yang mengandung unsure-unsur makanan yang diperlukan, dapat berupa garam-garam anorganik seperti protein, peptone, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Bahan-bahan makanan yang disediakan untuk menumbuhkan mikroorganisme disebut kultur media. Sedangkan mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang biak pada suatu kultur media disebut kultur.

            Fungsi Media
Media dapat berfungsi untuk membiakkan, mengasingkan dan meyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama di laboratorium. Media juga dapat berfungsi untuk mempelajari sifat-sifat koloni/pertumbuhan, sifat-sifat biokimiawi mikroorganisme. Selain itu dalam laboratorium mikrobiologi kedokteran dapat berfungsi untuk pembuatan antigen, toksin dan untuk pasasi kuman dengan tujuan perubahan virulensi dan lain-lain.

           

Syarat-syarat membuat media
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam membuat media adalah :
  1. Media harus mengandung semua unsur makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme.
  2. Media harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme.
  3. Media harus dalam keadaan steril sebelum ditanami mikroorganisme yang dimaksud, jadi tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme yang lain yang tidak diharapkan

Komposisi Media
Di Laboratorium mikrobiologi, untuk pekerjaan rutin biasanya dibuatkan media standar yang terdiri dari : kaldu, pepton, karbohidrat. Jika diperlukan media padat, dapat ditambahkan agar. Media standar ini disediakan untuk mempermudah macam-macam media yang dikehendaki sesuai dengan tujuannya. Misalnya membuat media agar miring, untuk membiakkan mikroorganisme, media agar darah untuk membiakkan kuman yang memerlukan darah, media agar dam lempeng, untuk melihat hemolisis dan lain-lain.
            Pada hakekatnya komposisi media yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme seperti pada habitat aslinya (kondisi alamiah). Oleh karena itu, jika ingin membiakkan mikroorganisme yang dapat hidup di usus manusia misalnya, maka harus menggunakan media tertentu yang dapat hidup diusus manusia misalnya, maka harus menggunakan media tertentu yang dilakukan dengan bermacam-macam media diperkaya, media selektif , dan media differensial. Sedangkan pengereman (inkubasi) media harus dilakukan pada suhu 370 C, yaitu suhu yang sesuai dengan tubuh manusia.
            Dewasa ini untuk keperluan penelitian maupun pekerjaan di laboratorium banyak dipermudah dengan adanya bermacam-macam media yang tersedia dalam bentuk serbuk kering. Serbuk kering ini sudah siap dipakai.artinya tidak perlu lagi menentukan pH nya, sebab hal ini sudah dilakukan terlebih dahulu pada pembuatan serbuk. Sehingga untuk menyiapkan media cukup mengikuti aturan pakai yang dituliskan pada tabel. Misalnya sekian gram serbuk kering dilarutkan dalam sekian liter mililiter air suling, kemudian disterilkan.

Tujuan
  1. Membuat media Kaldu Nutrisi Agar
  2. Membuat media Toge Agar

Alat dan Bahan
  1. Timbangan
  2. Kaca Arloji
  3. Sendok
  4. Gelas Ukur
  5. Beaker Glass
  6. Tabung Reaksi
  7. Batang Pengaduk
  8. pH Indikator
  9. Corong
  10. Kertas saring
  11. Kapas
  12. Pembakar
  13. Autoclave
  14. Cawan Petri
  15. Baki atau nampan
  16. Daging Lembu ½ kg
  17. Toge
  18. Agar Powder
  19. Vaselin
  20. Aquades
  21. Bacto Pepton
  22. Lisol
  23. Sukrosa

Prosedur
  1. Kaldu Nutrisi Agar
    1. Buatlah ekstrak daging lembu (daging 0,5 kg direbus dalam air 1 liter hingga volume air menjadi ½ nya atau selama 1-2 jam)
    2. Saringlah ekstrak daging dengan kertas saring, kemudian tambahkan aquades hingga volume menjadi 1 liter
    3. Masukkan bacto pepton 5 gram dan agar powder 15 gram
    4. Panaskan suspensi tersebut sehingga mendidih selama 20 menit
    5. Ukur pH, usahakan pH menjadi 6,8-7,3
    6. Tuangkan kedalam tabung reaksi : 10 ml untuk agar tegak dan 5 ml untuk agar miring
    7. Tutup semua tabung dengan kapas sebaik mungkin
    8. Siap untuk disetrilisasi.
  2. Kaldu Toge Agar
    1. Buatlah ekstrak toge (dari 100gr toge digerus atau dihaluskan dan diambil airnya)
    2. Saring ekstrak toge tersebut dengan kertas saring dan tambahkan aquades sehingga volume menjadi 1 liter
    3. Tambahkan sukrosa 60 gr dan agar powder 15 gr
    4. Panaskan suspensi tersebut sampai mendidih selama 20 menit .
    5. Masukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 10ml untuk agar tegak dan 5 ml untuk agar miring.
    6. Tutup dengan kapas sebaik mungkin
    7. Siap untuk disterilisasi.

Pengamatan koloni bakteri dan jamur


PENGAMATAN KOLONI BAKTERI DAN JAMUR

Teori Dasar                :
            Disekitar kita mikroorganisme mudah dijumpai, seperti diudara, diantara helaian rambut, disela-sela gigi, dijari tangan, dalam usus besar, dipermukaan kulit, dalam makanan dan kemungkinan dalam minuman manusia. Untuk mempelajari koloni serta sifat bakteri dan jamur kita perlu menumbuhkannya pada medium.

Tujuan                       :
1.      Mempelajari morfologi koloni bakteri
2.      Mempelajari morfologi koloni jamur

Alat dan Bahan         :
1.      Lampu bunsen/spiritus
2.      Korek api
3.      Jarum inokulasi
4.      Petridish yang sudah disterilkan
5.      Medium Kaldu Nutrisi agar
6.      Medium toge agar
7.      Cotton bud(pembersih telinga)

Prosedur Kerja         :
1.      Panaskan air dalam beaker glass sehingga mencapai suhu 45-500 C
2.      Masukkan tabung reaksi yang berisi medium (khusus untuk medium tegak) kedalam beaker glass supaya medium cair
3.      Biarkan 5 menit kemudian tuangkan kedalam petridish
4.      Beri label, nama kelompok dan nama medium
5.      Lakukan perlakuan sebagai berikut:
-          Membiarkan cawan petri yang berisi medium kaldu nutrisi agar dalam keadaan terbuka selama 20 menit dan toge agar selama 1 jam. Segera tutup kembali
-          Mengucapkan kata-kata dengan jarak 5-10cm dekat medium yang terbuka selama 3 menit, segera tutup kembali.
6.      Semua lempeng agar tersebut diinkubasi pada suhu kamar selama 2 - 3x24 jam, amati setiap koloni mikroba yang tumbuh setiap hari.
7.      Lakukan pengamatan morfologi koloni bakteri yang meliputi:
-          Warna
-          Bentuk koloni
-          Ukuran diameter koloni
-          Mengkilat atau suram
8.      Hitunglah jumlah dan macam koloni bakteri dan jamur yang tumbuh pada medium
9.      Buatlah label pengamatan

Pertanyaan dan Tugas
Perbedaan apa yang terlihat pada koloni bakteri dan jamur?

Pengamatan Jamur pada makanan


PENGAMATAN JAMUR PADA MAKANAN
Teori dasar                :
Jamur memiliki ciri-ciri sebagai berikut: mempunyai inti sel, membran inti sel sempurna, tidak mempunyai klorofil, bentuk uniseluler atau multiseluler, berkembang biak dengan spora, hidupnya bersifat heterotrof, dan dapat juga sebagai parasit atau saprofit. Jamur dapat menguntungkan dan dapat juga merugikan. Perananya dalam makanan antara lain terdapat pada tempe, oncom, tape, keju, yang dapat menguntungkan manusia tetapi ada juga yang merugikan seperti terdapat pada nasi, kue, roti, buah-buahan, dan lain-lain
Tujuan                       :
Mengamati morfologi jamur yang terdapat pada makanan
Alat dan Bahan         :
1.      Mikroskop
2.      Objek glass dan Cover Glass
3.      Jarum Pentul
4.      Pipet tetes
5.      Jamur Nasi
6.      Jamur roti
7.      Jamur Tongkol jagung
8.      Jamur tempe
9.      Aquades steril
Prosedur Kerja         :
1.      Ambil objek glass bersih dan bebas kotoran atau lemak
2.      Ambillah sehelai jamur dari masing-masing bahan pengamatan dengan menggunakan jarum pentul dan letakkan diatas objek glass.
3.      Teteskan dengan setetes aquades pada kaca benda.
4.      Tutup dengan cover glass.
5.      Buatlah label untuk berbagai jenis jamur berbeda
6.      Amati dibawah mikroskop.
7.       Gambarkan hasil pengamatan dan beri keterangannya : nama jamur, Rhizoid, spyrogium? Tangkai spyrogium? Spora? Stolon? Hyfa? Konidiosfor? Konidia? Dan bagian-bagian jamur lainnya.
No
Jamur dari ....
Nama Jamur
Gambar dan Keterangan
1

2

3

4






Tugas dan Pembahasan       :
1.      Mengapa makanan dapat ditumbuhi jamur?
2.      Bagaimana caranya mengatasi orang yang keracunan jamur?

Pembuatan Kompos


PEMBUATAN KOMPOS

Teori Dasar                   :
            Sampah merupakan materi yang tidak dapat dipergunakan secara produktif atau tidak dapat menghasilkan sesuatu produk yang bersifat baru. Akan tetapi sampah dapat diproses kembali dengan suatu metode yang disebut ”metode 3R” ( Recycle, Reuse, dan Reduce ). 
Recycle adalah suatu proses penampungan sampah atau materi yang tidak dapat digunakan kembali kedalam suatu tempat / wadah yang bersifat sementara, untuk kemudian sampah yang dikumpulkan tadi akan diseleksi kembali atau memasuki tahap Reuse
Reuse adalah ialah proses pemilihan sampah yang dianggap masih berguna atau masih dapat dipergunakan untuk membuat materi yang lainnya. Kemudian sisa dari total sampah yang diolah tadi akan memasuki tahap terakhir yaitu Reduce yaitu tahap pengurangan atau pemusnahan. Sampah yang dianggap benar – benar tidak produktif atau tidak berguna lagi akan dimusnahkan.
Sampah sendiri terbagi atas 2 jenis sampah yaitu : sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup dan dapat diuraikan oleh organisme pengurai sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat diuraikan oleh organisme pengurai.
Tujuan                       :
Mengetahui cara dan proses pembuatan kompos
Bahan dan Alat  :
  1. Sampah organik 2 kg
  2. Pupuk Cair EM4, konsentrasi 20% (dengan menambahkan 20 ml Larutan EM4 dengan 100ml air).
  3. Dedak ½ kg
  4. Gula 1 ons
  5. Air secukupnya
  6. Plastik Pembungkus
  7. Ember Plastik yang tertutup
  8. Pisau
  9. Termometer

Prosedur Kerja              :
  1. Cacah sampah hingga berukuran 2 cm
  2. Masukkan sampah kedalam ember plastik
  3. Tambahkan dedak, gula dan air sedikit demi sedikit, sambil diaduk
  4. Air berfungsi untuk merekatkan bahan, diberikan jangan terlalu banyak
  5. Tambahkan EM4 sambil diaduk hingga rata
  6. Tutup ember dan bungkus plastik
  7. Setiap 2 hari lakukan pengadukan (pembalikan)terhadap kompos,  lakukan pengukuran suhu
  8. Inkubasikan selama 1-2 minggu
  9. Lakukan pengamatan dan catat hasil pengamatan

Hasil Dan Pembahasan          :
No
Kelompok
Perubahan pada kompos
Keterangan
Suhu
Warna
Bentuk
1





2





3





Dst..







Pertanyaan
  1. Adakah perubahan suhu bahan kompos dari awal sampai akhir pengamatan
  2. Kumpulkan data pengamatan beberapa tekstur bahan kompos

Pembuatan pupuk cair EM4


PEMBUATAN PUPUK CAIR  – EM4

Teori Dasar                  :
Banyak cara untuk membuat "mikroba efektif" untuk mempercepat proses pembuatan kompos. Salah satu di antaranya adalah yang kami tulis di bawah ini. Pengalaman teman-teman kami membuat EM4 dengan isi usus binatang telah menimbulkan bau yang kurang sedap sehingga kami memilih jalan pembuatan yang sifatnya vegetarian, dari bahan-bahan tanaman yang mudah dan cepat busuk.
Penemuan yang sangat berharga untuk pertanian mandiri ini, awalnya adalah orang Jepang, bernama Teruo Higa pada tahun 1970 -- kini telah banyak diterapkan oleh para petani modern. Tapi masih banyak pula yang belum melakukannya karena lebih percaya pada pupuk kimia yang dirasa "lebih praktis" tapi sesungguhnya tidak sehat baik untuk tanah, tanaman maupun untuk kita manusia.

Tujuan                                     :
Untuk mengetahui cara dan proses pembuatan pupuk cair ”EM4”
Untuk mengetahui kegunaan pupuk cair ”EM4”
Bahan dan Alat           :
  1. Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
  2. Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
  3. Bekatul , secukupnya
  4. Gula merah, sedikit saja
  5. Air beras, secukupnya
  6. Ember ukuran sedang
  7. Cetok(sekop kecil pengaduk semen)
Cara membuat                      :
  1. Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
  2. Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
  3. Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
  4. Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
NB: “bekatul” atau dedak merupakan pakan ternak, adalah bagian luar atau kulit ari dari beras
yang merupakan hasil sampingan dari proses penggilingan nasi.

Hasil dan Pembahasan
1.
2.

Pengamatan Bakteri pada Bintil akar


Judul              : Pengamatan Bakterioid Pada Bintil Akar Kacang-Kacangan.

Bahan             : 1. Bintil akar tanaman buncis ( Phaseolus vulgaris ), kacang hijau ( Vigna radiata )
                          2. Alkohol 70%
                          3. H2O2
                          4. Aquades
                          5. Pewarna karbon fauchsin.

Alat                 : 1. Objek Glass
                          2. Mikroskop
                          3. Lampu Bunsen
                          4. Pisau Silet
                          5. Pinset
                          6. Petridish
                          7. Botol Semprot

Metode :
  1. Bintil akar disterilisasi dengan merendamnya kedalam alkohol 70% selama 10 detik, H2O2 selama 3 menit, aquadesh selama 5 menit.
  2. Bintil disayat tipis, diletakkan di objek glass, ditekan perlahan, di smear, dikeringanginkan.
  3. Difiksasi dengan melewatkan di atas api bunsen.
  4. Diwarnai dengan karbon Fachsin (5 detik), kemudian dicuci dengan aquadesh mengalir secara perlahan dan dikeringkan.
  5. Diamati di bawah mikroskop :
    1. Gambarkan bakteroid dari rhizobium pada kedua kacang-kacangan !
    2. Apakah bakteroid dari rhizobium pada kedua kacang-kacangan sama ?

Kesimpulan :
            1.
            2.

Pembuatan Nata de Coco


Tujuan             = Mengetahui Pembuatan Nata De Coco
Bahan              =          Air Kelapa                   = 500 ml
                                    Gula Pasir                    = 5 gr
                                    ZA                               = 2,5 gr
                                    Asam Sulfat 96%        = 5 ml
                                    Starter                                     = 50 ml

Prosedur Kerja :
  1. Air Kelapa direbus, ditambahkan gula pasir dan ZA biarkan mendidih.
  2. Setelah mendidih, tambahkan cuka, lalu angkat
  3. Masukkan selagi panas kedalam wadah , dan ditutup
  4. Biarkan 1-2 jam
  5. Tambahkan starter, wadah ditutup dan dibungkus rapat
  6. Fermentasi selama 1 minggu (7hari).